Situs Kuburan Kuno di Matano memang jarang kita dengar dalam perbincangan sehari-hari. Setelah kuburan ini dipugar, tentunya akan menambah satu lagi tempat wisata di Luwu Timur. Kuburan ini, Sabtu kemaren ditinjau untuk perencanaan pemugarannya.
Tim Pemerintah Kabupaten Luwu Timur (Lutim) meninjau komplek kuburan kuno di Desa Matano, Kecamatan Nuha pada Sabtu kemarin (8 November 2008). Tim yang terdiri dari Kabag Sosial Budaya, Bappeda, Drs. Basruddin, Kabag Litbang Bappeda , Suyatman S.Pd., dan staf teknis Bappeda, Heriwanto ST., bersama Sekretaris Desa Matano, Jumahir, mengunjungi kuburan kuno tersebut untuk memeriksa kondisi kuburon kuno tersebut. Menurut Jumahir, dari cerita masyarakat sekitar keberadaan kuno tersebut merupakan makam dari penguasa zaman dulu di Matano dan sekitarnya.
“Masyarakat menyebut makam itu adalah makam Raja Mokole Lukamandiu yang merupakan awal dari penduduk di Matano ini. Usia makam ini sudah cukup lama, belum tahu pasti tahun berapa. Tapi sejak dulu orang tahu itu makam raja yang menguasai wilayah Matano ini dan merupakan cikal bakal penduduk di sini,” ujar Jumahir.
Menurut Basruddin, Pemkab Lutim merencanakan akan memugar makam kuno itu. “Ini merupakan salah satu program untuk pelestarian sejarah dan budaya di Luwu Timur. Bila dibenahi dan ditata kemungkinan bisa komplek makam ini menjadi salah satu objek wisata di Luwu Timur,” ungkap Basruddin. Kondisi makam sangat mengenaskan ketika ditinjau Tim Pemkab Lutim. Makam sudah terbongkar. “Dulu makam ini seperti candi dan banyak patung-patung berbentuk orang. Tapi sekitar tahun 70-an ada orang-orang yang menggali makam ini dan membawa patung-patungnya,” jelas Jumahir. Ukuran makam Raja Mokole Lukamandiu sekitar 4 kali 4 meter. Di tengah makam hanya ada dua batu nisan yang terpenggal. Ditengah makam, ada bekas penggalian. Makam dikelilingi tumpukan batu seperti benteng dan ada pecahan keramik seperti keramik kuno dan sepotong gamelan dari besi. “Dulu banyak patung-patung kuno di sekitar makam ini. Selain makam raja ini juga banyak makam-makam kecil lainnya di sekitar sini,” terang Jumahir.
Untuk mencapai makam kuno itu, Tim Pemkab Lutim berangkat dari Sorowako dengan menyewa perahu katinting menuju Desa Matano dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Dari Desa Matano, tim memerlukan kurang lebih 1 jam mendaki bukit sekitar 300 meter dari permukaan Danau Matano, yang merupakan tempat makam tersebut. Jalan menuju makam hanya bisa dilalui melalui jalan setapak yang diselimuti semak belukar. Tanpa pemandu dari penduduk Desa Matano, pengunjung akan sulit menemui lokasi makam tersebut, malah kemungkinan akan tersesat dan tidak dapat menjumpai makam itu.
Untuk membangun makam itu, menurut Jumahir, dulu orang-orang berjejer dari tepi Danau Matano hingga ke pucuk bukit tempat makam itu. Satu-persatu batu-batu dioper melalui orang-orang itu hingga sampai ke lokasi makam. “Itu yang saya ketahui dari cerita orang-orang tua dahulu. Makam ini dulu seperti bangunan candi-candi. Banyak patung-patungnya,” terang Jumahir.
Menurut Jumahir, dulu sekitar tahun 80-an ada penelitian dari Balai Arkeologi dan Benda-benda purbakala dari Makassar. “Tapi belum tahu seperti apa hasilnya sampai sekarang. Mungkin di Balai Arkeologi itu ada hasil-hasil penelitiannya,” ujar Jumahir.
Menurut Basruddin, mudah-mudahan anggaran Tahun 2009 sudah cair untuk pemeliharaan dan pemugaran makam ini .
 |