|
Written by Anna BSA
|
|
Monday, 22 December 2008 14:01 |
cuma ingin berbagi pada sesama penggemar Barack Obama juga semua yang cinta pada negeri ini
Sewaktu Barack Obama terpilih jadi Presiden Amerika Serikat, saya langsung berseru Yes!. Sepertinya saya termasuk salah satu orang di dunia yang terkena demam “Obamania”. Sampai sekarang pun saya tidak pernah melewatkan berita mengenai Obama yang ada di surat kabar. Yang saya ingat pada saat pemilihan presiden AS berlangsung, beberapa kali istilah E Pluribus Unum muncul disebuah surat kabar. E Pluribus Unum, adalah Moto yang dianut di Amerika Serikat. Negara pluralis yang sangat heterogen dalam segi etnis, ras dan juga agama, dengan mayoritas adalah ras Anglosaxon (kulit putih). Barack Obama adalah orang kulit hitam pertama yang menjadi Presiden. Walaupun Ibunya asli Amerika dan kulit putih, ayahnya seorang kulit hitam muslim berasal dari Kenya (Afrika).
E Pluribus Unum kurang lebih artinya berbeda-beda tapi tetap satu. Bangsa Amerika Serikat boleh bangga karena moto tersebut bukan hanya sebuah wacana tapi telah dibuktikan secara nyata sejak terpilihnya Senator Obama menjadi Presiden. Bahwa seorang yang berasal dari kalangan minoritas bisa menjadi pemimpin bangsanya. Walaupun sebagian kecil mungkin masih memendam kecurigaan antar ras atau etnis tapi sebagian besar berpendapat “Kita adalah Satu Amerika Serikat”
Kalau Orang Amerika Serikat punya E Pluribus Unum, kita juga punya semboyan yang sama yaitu Bhineka tunggal Ika, yang mestinya lebih berarti di negara kita, karena Indonesia adalah negara yang sangat heterogen, dengan berbagai suku, etnis dan bahasa juga agama yang berbeda-beda ditambah pula sebagai negara kepulauan kebanyakan wilayah dipisahkan oleh air. Karena itulah Sumpah Pemuda dan semboyan Bhineka tunggal Ika jadi benar-benar penting untuk ditanamkan pada seluruh komponen bangsa terutama pada generasi muda. Bisakah kita menghilangkan segala kecurigaan antar suku, etnis apalagi agama dan dengan tulus dan bangga berkata “ Kita adalah Satu Indonesia”?
Tadi malam saya menghadiri acara “ Bali Paradise Night 4” yang diadakan oleh komunitas masyarakat Bali di Sorowako, lebih tepatnya masyarakat Hindu di Sorowako dan sekitarnya. Acaranya dilaksanakan di Pura Giri Kusuma, dengan tujuan untuk mencari dana. Cukup banyak tamu dari berbagai kalangan yang datang, malah hampir semua meja terisi penuh, padahal untuk hadir kita harus membeli tiket yang cukup mahal. Tapi sepadan dengan makanan yang enak dan pertunjukan yang memukau. Dengan dekorasi yang sangat Indah, saya merasa sedang berada di pulau Dewata sendiri. Baru tersadar saya masih berada di Sorowako sewaktu Sekda Luwu Timur dan Pak Chiho Bangun selaku wakil dari PT Inco memberikan sambutannya. Pendek kata sambutan keduanya berisikan kegembiraan dan harapan bahwa acara Bali Paradise Night tersebut telah menunjukan kebhinekaan, keragaman budaya dan toleransi beragama yang tumbuh baik di Sorowako. Sambil menikmati air kelapa muda yang masih tersaji dalam bentuk aslinya, saya berdoa mudah2an apa yang dikatakan kedua Bapak tadi benar adanya dan akan terus terjaga selamanya di Sorowako.
Karena saya masih sering miris membayangkan yang pernah terjadi di Ambon, Poso maupun Pontianak dll. Walaupun tidak mengalami sendiri, tidak juga punya keluarga atau teman di sana, saya sungguh ikut terluka dengan yang dialami oleh saudara-saudara setanah air tsb. Sekarang keadaan sudah pulih, tapi kabarnya luka hati masih belum sembuh benar. Persahabatan bahkan persaudaraan terkoyak, dan walaupun telah “ditambal” bekasnya masih tetap ada.
Bagaimana menjaga persatuan antar bangsa agar hal tersebut tidak terjadi lagi di daerah manapun di seluruh Indonesia apalagi di Sorowako ? Berbagai upaya dan kegiatan telah dilakukan, berbagai organisasi dibentuk bahkan ada forum kerukunan antar umat bergama di Sorowako. Tapi sekali lagi yang paling penting adalah menanamkan keyakinan bahwa kita semua adalah Satu Indonesia. (mumpung hari sumpah Pemuda belum terlalu lama berlalu)
Walaupun kita berbeda suku, berbeda etnis atau berbeda Agama, kita adalah Satu Negara Indonesia, Satu Bangsa Indonesia dan Satu Bahasa Indonesia. Hidup Bhineka Tunggal Ika !, Orang Amerika Serikat saja bisa, masa kita tidak. ( Aduh, saya merasa jadi sangat nasionalis nih).
Kebanggaan pada tanah leluhur dan meningkatnya keimanan kita pada agama yang kita anut harusnya tidak menghalangi kemanusiaan kita untuk bersikap baik dan adil pada manusia lain yang "berbeda" dengan kita terutama pada saudara sebangsa dan setanah air. Apalagi kalau kita adalah mayoritas. Kalaupun ada dendam masa lalu, harusnya kita tidak mewariskan hal tersebut pada anak cucu kita. Mereka berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari yang didapatkan oleh orangtua2 mereka. Kita tentu tidak ingin kita sendiri atau anak cucu kita terus terperangkap dalam kubangan rasa curiga atau dendam antar suku,etnis dan agama kan?
Mungkin pertanyaan seperti ini tepatnya diajukan pada masyarakat di Ambon, Poso dll yang pernah mengalami pertikaian antar etnis, kalau di Sorowako sih tidak perlu dipertanyakan lagi, karena masyarakatnya hidup rukun dan mempunyai toleransi yang tinggi. Sambil sekali lagi menyeruput air kelapa muda dan menikmati tarian2 Bali yang indah, saya sekali lagi berdoa mudah2an saya benar adanya dan kerukunan antar suku, etnis dan agama selamanya akan tetap terjaga dengan baik di Sorowako.
 |
|
Last Updated on Thursday, 25 December 2008 22:34 |